Sikap
kita terhadap masalah adalah MASALAH yang sesungguhnya. Mereka yang
sukses selalu melihat PELUANG di setiap MASALAH. Sementara mereka yang
gagal selalu melihat MASALAH di setiap PELUANG.
Sejarah telah
membuktikan bahwa Tuhan memuliakan seseorang dengan memberi kepadanya
berbagai masalah untuk bertumbuh dan menyikapinya dengan benar. Yusuf
AS, dibuang saudara-saudaranya ke dasar sumur dengan harapan kelak ada
musafir yang akan menemukannya dan menjadikannya budak. Parasnya yang
tampan membuat Yusuf AS memiliki harga jual tinggi yang hanya bisa
dibayar oleh orang kaya dan pejabat negara. Jadilah ia budak dan pelayan
istana!
Prestasinya sebagai pelayan membuatnya menjadi kepala
urusan rumah tangga kerajaan, jadilah Yusuf AS sebagai orang kepercayaan
raja!
Sekali lagi, bahwa ketika Tuhan akan memberikan
kemuliaan kepada seseorang, maka Ia akan memberikan masalah. Ya, Yusuf
AS dipenjara karena menjaga kehormatannya dan memper-tanggungjawabkan
perbuatan yang tidak ia lakukan. Selama 13 tahun di dalam penjara Yusuf
AS tidak meratapi nasibnya, menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan
Tuhan. Justru Yusuf AS menemukan ketenangan. Ia bisa menjadi pemimpin di
antara para narapidana dan menjadi pusat kebijakan bagi penghuninya.
Hingga satu kesempatan Yusuf AS menjadi satu-satunya orang yang bisa
mentafsirkan mimpi sang raja dan memberikan solusi dari masalah yang
akan dihadapi kerajaan. Keluarlah ia dari penjara dan akhirnya menjadi
raja!
Sebagaimana sumur, penjarapun tidak mampu merendahkan
derajatnya yang memang layak dan pantas untuk dimuliakan karena sikapnya
yang benar terhadap setiap masalah yang dihadapinya. Ia selalu fokus
kepada nilai kemuliaan, bukan masalah yang merendahkan. Ia tidak
menyalahkan sudaranya yang telah membuangnya ke sumur, justru ia
berterimakasih karena perbuatan mereka dahulu yang menjadikannya seperti
saat ini.
Seseorang yang fokus kepada masalah, dan mereka
selalu mengatakan bahwa “masalahnya ada pada…”; atau “jika saja
perusahaan…”; bahkan mungkin “ini semua karena kesalahannya..”. Mereka
melihat masalah selalu berada diluar dirinya. Anehnya lagi, hal ini
membuat dirinya tersiksa. Perasaan “menjadi korban” menjadikan dirinya
tertutup akan sebuah peluang yang membuat dirinya bernilai. Dan pada
akhirnya memutuskan untuk memilih “tidak bertindak sama sekali kecuali
mengkomentari dan selalu mencari kesalahan dan kelemahan orang lain!”.
Setiap ada masalah maka terbukalah peluang. Semakin besar masalahnya
maka semakin “sulit dihindari peluangnya yang sangat besar”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar